Search This Blog

Loading...

Total Pageviews

Tuesday, June 25, 2013

GREEN ARSITEKTUR



Green Arsitektur

Green Arsitektur (juga dikenal sebagai konstruksi hijau atau bangunan yang berkelanjutan) mengacu pada struktur dan penggunaan proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sumber daya yang efisien pada seluruh siklus hidup bangunan: mulai dari penentuan tapak sampai desain, konstruksi, operasi, pemeliharaan, hingga renovasi pembongkaran. Usaha ini memperluas dan melengkapi fungsi desain bangunan konvensional yang memperhitungkan masalah ekonomi, daya tahan utilitas, dan kenyamanan. Green arsitektur merupakan konsep arsitektur yang berkelanjutan. Keberlanjutan tersebut dapat didefinisikan sebagai memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kepentingan untuk memenuhi kebutuhan generasi mendatang.
Teknologi baru terus dikembangkan untuk melengkapi usaha ini dalam menciptakan Green BuildingGreen Building atau bangunan hijau adalah bangunan yang dirancang untuk mengurangi dampak negatif keseluruhan lingkungan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan alam melalui:
  1. Efisien dalam penggunaan energi, air, dan sumber daya lainnya.
  2. Melindungi kesehatan dan meningkatkan produktivitas orang yang menempatinya.
  3. Reduksi limbah, polusi dan degradasi lingkungan.
Berikut ini akan diuraikan lebih lanjut mengenai green roof. Green roof merupakan salah satu konsep green arsitektur yang sedang dikembangkan di berbagai negara saat ini.

Atap hijau (green roof) adalah atap sebuah bangunan yang sebagian atau seluruhnya ditutupi dengan vegetasi dan media tumbuh, ditanam di atas membran anti air. Ini juga termasuk lapisan tambahan seperti penghalang akar dan drainase sebagai sistem irigasi. (Penggunaan "hijau" mengacu pada tren yang berkembang secara ramah lingkungan dan tidak mengacu pada atap yang hanya berwarna hijau, seperti genteng berwarna hijau atau herpes zoster.). Green roof juga dikenal sebagai "atap yang hidup", green roof dibuat untuk beberapa tujuan, antara lain:
  • Menyerap air hujan
  • Menyediakan zona isolasi bagi penghijauan
  • Menciptakan habitat bagi satwa liar
  • Membantu untuk menurunkan suhu udara perkotaan
  • Mengurangi efek pemanasan global 
Ada dua jenis green roof, yaitu:
  • Atap intensif (intensive roof): lebih tebal dan dapat mendukung berbagai tanaman yang lebih luas tetapi berat dan memerlukan perawatan lebih.
  • Atap yang luas: tertutup lapisan vegetasi, lebih terang dan lebih ringan daripada atap intensif.
Istilah green roof juga dapat digunakan untuk menunjukkan atap yang menggunakan beberapa bentuk "teknologi hijau", seperti atap dingin, atap dengan kolektor panas matahari atau modul fotovoltaik. Green roof juga disebut sebagai eco-roof, oikosteges, atap tumbuhan, dan atap hidup. 

a.      Manfaat Green Roof bagi Lingkungan
Green roof  digunakan untuk:
·         Mengurangi pemanasan (dengan menambahkan massa dan nilai resistansi termal). Sebuah studi (tahun 2005) oleh Brad Bass dari University of Toronto menunjukkan bahwa green roof juga dapat mengurangi hilangnya panas dan konsumsi energi dalam kondisi musim dingin.
·         Mengurangi pendinginan pada bangunan hingga 50-90 %.
·         Penciptaan habitat alam.
·         Penyaring polutan dan karbon dioksida dari udara yang membantu mengurangi dampak penyakit pernapasan, seperti asma.
·         Penyaring polutan dan logam berat dari air hujan.
·         Mengurangi pencemaran suara; tanah membantu untuk memblokir frekuensi yang lebih rendah dan tanaman dapat memblokir frekuensi yang lebih tinggi.
·         Sebagai ruang penghijauan.

http://3.bp.blogspot.com/_ryf4vsoP_CE/TAM_kkaL-mI/AAAAAAAAABI/bG1H4siRBn8/s320/a.JPG
Gambar 1. Penggunaan Green Roof di Rumah Penduduk, Polandia


b.      Jenis-jenis Green Roof
      Green roof dapat dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu intensive green roof, semi-intensive, dan extensive green roof. Penggolongan tersebut dilakukan berdasarkan pada kedalaman penanaman dan jumlah perawatan yang dibutuhkan. Green roof yang membutuhkan kedalaman tanah yang wajar untuk menanam tanaman besar atau rumput konvensional, dianggap "intensif" karena bersifat padat karya, membutuhkan irigasi, dan perawatan lainnya. Intensive green roof dapat mencakup berbagai tumbuhan ringan, semak-semak, dan berbagai pohon kecil. Sebaliknya, extensive green roof dirancang untuk dapat mandiri dan hanya memerlukan pemeliharaan yang minimum, mungkin hanya dilakukan satu kali penyiangan dalam setahun, atau pemberian pupuk yang tidak terlalu sering untuk meningkatkan pertumbuhan. Extensive green roof biasanya hanya diakses untuk pemeliharaan. Atap jenis ini dapat didirikan pada lapisan sangat tipis dari "tanah" (paling hanya menggunakan kompos khusus yang diformulasikan.), bahkan lapisan tipis rockwool dapat langsung diletakkan ke atas lapisan kedap air dan dapat mendukung penanaman beberapa spesies tanaman tertentu, misalnya lumut.

c.       Sejarah Green Roof
Green roof memiliki sejarah panjang yang berawal dari berabad-abad yang lalu. Modern green roof, yang terbuat dari sistem lapisan dan diproduksi untuk ditempatkan di atas atap agar mendukung media tumbuh dan vegetasi, adalah fenomena yang relatif baru. Namun, green roof atau atap rumput di bagian utara Skandinavia telah ada selama berabad-abad. Green roof mulai mengalami perkembangan pesat untuk diproduksi secara massal ketika atap tersebut dikembangkan di Jerman pada tahun 1960, dan telah menyebar ke berbagai negara. Hari ini, diperkirakan bahwa sekitar 10% dari seluruh atap rumah penduduk di Jerman telah menggunakan green roof. Green roof juga menjadi semakin populer di Amerika Serikat, meskipun penduduk di sana tidak begitu antusias seperti penduduk di Eropa.
Sejumlah negara Eropa memiliki asosiasi yang sangat aktif dalam mempromosikan green roof, seperti Jerman, Swiss, Belanda, Italia, Austria, Hungaria, Swedia, Inggris dan Yunani. Terdapat banyak pengembang yang sudah membayar untuk menginstal green roof sejak tahun 1983 di kota Linz, Austria. Sementara itu di negara Swiss, penggunaan green roof sebagai atap rumah penduduk telah menjadi hukum federal sejak akhir tahun 1990-an. Penggunaan green roof sebagai atap rumah dan gedung perkantoran juga mendapat dukungan yang cukup baik dari beberapa kota di Inggris, seperti kota London dan Sheffield.

d.      Biaya Pemasangan Green Roof
Pemasangan green roof dengan benar dapat membutuhkan biaya sekitar 5-10 dolar per kaki persegi. Green roof yang dipasang secara profesional dan terintegrasi di Eropa memerlukan biaya antara 100-200 euro per meter persegi. Biaya yang dibutuhkan tergantung pada jenis green roof, struktur bangunan, dan tanaman apa yang dapat tumbuh pada bahan yang ada di atas atap. Beberapa biaya juga dapat dikaitkan dengan pemeliharaan. Extensive green roof membutuhkan pemeliharaan yang rendah tetapi pada umumnya tidak benar-benar bebas dari pemeliharaan. Pemeliharaan green roof sesungguhnya cukup sering dibutuhkan, seperti pemupukan untuk meningkatkan kesuburan atap, menutupi tanaman berbunga, dan mengairi atap. Hal inilah yang menyebabkan biaya perawatan green roof menjadi cukup mahal.

e.       Kelemahan Green Roof
Kelemahan utama dari green roof adalah biaya awal yang cukup mahal. Beberapa jenis green roof memang menuntut standar struktural bangunan yang lebih kompleks, terutama di wilayah gempa dunia. Beberapa bangunan yang ada tidak dapat dipasang dengan beberapa jenis green roof  karena beban berat substrat dan vegetasi yang melebihi standar pembebanan biasa. Besarnya biaya yang dibutuhkan tergantung pada jenis green roof yang digunakan, biaya pemeliharaan bisa lebih tinggi, tetapi terdapat beberapa jenis green roof  yang hanya membutuhkan biaya pemeliharaan yang lebih hemat. Penggunaan green roof yang tidak memakai bahan-bahan yang terbaik juga dapat menyebabkan kebocoran pada atap, baik karena banyaknya air yang tertahan di atas atap maupun karena akar tanaman menembus sistem anti air atap. Sistem anti air yang dibangun dengan komposisi struktur yang baik akan meningkatkan biaya awal intalasi green roof, namun terdapat fakta penelitian bahwa sistem anti air green roof yang terpasang dengan baik akan melindungi membran anti air dari unsur-unsur perusak, terutama sinar UV. Hal ini membuat daya tahan membran anti air dapat meningkat sampai dua kali lipat atau bahkan tiga kali lipat. Oleh sebab itu, tentunya lebih baik jika sistem anti air yang diterapkan pada green roof adalah sistem dengan komposisi bangunan yang kualitasnya terbaik, meskipun biaya yang dibutuhkan lebih mahal daripada instalasi standar. Tingginya biaya instalasi tersebut tidaklah terlalu merugikan jika dibandingkan biaya perbaikan terhadap kebocoran sistem green roof yang mungkin terjadi bila menggunakan komponen yang tidak memenuhi standar instalasi.

f.       Komponen Pokok Teknologi Green Roof   
Berikut ini adalah komponen-komponen pokok yang diperlukan untuk menerapkan teknologi green roof.  

http://3.bp.blogspot.com/_ryf4vsoP_CE/TANBXCkN6FI/AAAAAAAAABo/CQXB9ygVtuI/s320/e.gif
Gambar 2. Komponen-komponen Pokok Teknologi Green Roof


g.      Penerapan Green Roof di Indonesia
Green roof memiliki banyak manfaat untuk mengurangi dampak negatif pemanasan global. Sesungguhnya, green roof merupakan alternatif  yang baik bagi orang yang akan membangun suatu rumah atau gedung untuk ikut berkontribusi meredam efek pemanasan global. Sayangnya, teknologi ini masih belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia, padahal Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk 5 besar negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Bayangkan saja jika seluruh rumah dan gedung di Indonesia menerapkan teknologi green roof sebagai atap, betapa besarnya kontribusi bangsa kita untuk menyelamatkan dunia dari efek negatif pemanasan global. Terdapat dua kendala utama penerapan teknologi green roof di Indonesia, yaitu:
  • Pertama, terbatasnya jumlah tenaga ahli di Indonesia yang mampu melakukan instalasi green roof. Kendala ini juga didukung dengan masih terbatasnya pengetahuan sebagian besar masyarakat Indonesia tentang teknologi green roof.
  • Kedua, penduduk Indonesia sebagian besar merupakan masyarakat menengah ke bawah, sehingga kondisi keuangan sebagian besar masyarakat Indonesia tidak dapat menyanggupi instalasi green roof apalagi ditambah dengan biaya pemeliharaan green roof yang terus menerus. Kondisi keuangan tersebut diperparah dengan keadaan Indonesia yang merupakan negara rawan gempa karena posisi Indonesia berada di jalur pegunungan sirkum pasisfik, di mana masih banyak terdapat gunung berapi yang masih aktif. Keadaan alam Indonesia tersebut menyebabkan biaya instalasi green roof semakin mahal, sebab teknologi pondasi bangunan dan atap harus lebih banyak pertimbangan dan menggunakan teknik-teknik khusus.

Selain green roof, masih terdapat beberapa konsep green arsitektur lainnya yang sedang dikembangkan dan diteliti lebih mendalam oleh para ahli arsitektur dunia. Berikut ini adalah uraian singkat mengenai konsep-konsep tersebut.

2.   Vertical Theme Park of the Future
Vertical Theme Park of the Future merupakan konsep taman gedung pencakar langit masa depan, yang berbasis di New York oleh arsitek Ju-Hyun Kim. Konsep ini mengadopsi konsep dari Disneyland untuk menciptakan dunia yang berbeda namun berbasis suasana kota sebagaimana mestinya. Dimana dari konsep ini diharapkan menjadi sebuah taman tanpa mobil, bangunan berkelanjutan yang memanfaatkan energi surya dan hijau, mendaur ulang limbah, dan menampung air hujan.

http://4.bp.blogspot.com/-hgAGgpE4Tf8/UHD4Q5kdLyI/AAAAAAAACOk/5Pux5mxtwj0/s400/Vertical+Theme+Park+of+the+Future+2.jpg
Gambar 3. Konsep Vertical Theme Park of the Future

3.   Twisting Acupuncture Tower for Taiwan
Bangunan ini berdesain spiral yang diselimuti membran alga dan sanggup memproduksi biofuel. Aristektur ini dikhususkan bagi Taiwan’s Khaosiung port city dimana nantinya sekaligus dimanfaatkan sebagai sarana penyerapan sinar matahari sebagai sumber energi dan daur ulang limbah.
http://2.bp.blogspot.com/-pTFD7KCCBdU/UHD7WYHpYyI/AAAAAAAACPs/H7sKja_AESg/s400/Twisting+Acupuncture+Tower+for+Taiwan+1.jpg
Gambar 4. Twisting Acupuncture Tower for Taiwan


4.   Vertical City for Venezuela Slums
Vertical City for Venezuela Slums merupakan konsep menara yang mampu mengasilkan sumber energi angin dimana terdapat turbin mikro yang disisipkan. Menara ini terdiri dari 3 bangunan berbentuk oval yang saling tumpang tindih yang mana masing-masing akan ditempati kelompok pengguna yang berbeda yaitu mulai dari ritel, hotel, apartemen, hingga perkantoran.
http://1.bp.blogspot.com/-lqavdjA8I4o/UHD-PEwj86I/AAAAAAAACQg/WId4vs2qKYc/s400/Vertical+City+for+Venezuela+Slums+1.jpg
Gambar 5. Konsep Vertical City for Venezuela Slums


5.   Spiral Tower: Suburban Living in Berlin
Spiral tower merupakan konsep perumahan pada gedung menara bertingkat dengan prinsip lingkungan hidup yang berkelanjutan. Pola saling silang antar ruang memungkinkan adanya ruang cukup untuk teras tanaman di setiap ruang apartemen. Bangunan ini juga sekaligus mampu menghasilkan sumber energi terbarukan dengan adanya perangakat panel surya, turbin angin, dan beberapa penampung air hujan.

http://4.bp.blogspot.com/-8LEsEaWdZR8/UHD_qYwbXWI/AAAAAAAACRI/mE4sr-Z4hus/s400/Spiral+Tower+Suburban+Living+in+Berlin++2.jpg
Gambar 6. Konsep Spiral Tower


6.   Reflections Development in Singapore
Reflections Development in Singapore merupakan konsep bangunan yang terdiri dari 6 tower yang dihubungkan oleh jembatan langit yang di dalamnya menyediakan kantong-kantong ruang terbuka, sehingga memberi pemandangan spektakuler di sekitarnya. Bangunan ini menampung 1.129 unit hunian dan telah memperoleh Singapore’s Green Mark Gold Award untuk kemampuannya dalam hal penghematan energi yang besar.

http://2.bp.blogspot.com/-5rLV2Odeu8I/UHEAeMubslI/AAAAAAAACRg/wGN_lgrbgn0/s400/Reflections+Development+in+Singapore+1.jpg
Gambar 7. Reflections Development in Singapore






REFERENSI


http://archiholic99danoes.blogspot.com/2012/10/mengintip-6-konsep-arsitektur-go-green.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Green_roof
http://greenroofs.org
http://skripsi-tesis.com/docs/green+roofs+for+healthy+cities

Tuesday, June 18, 2013

ULASAN SINGKAT BASIC METHODS TIME MEASUREMENT (MTM-1)

Basic Methods Time Measurement (MTM-1)
         Basic Methods Time Measurement (MTM-1) adalah prosedur untuk memperbaiki metode dan menetapkan standar waktu dengan mengklasifikasi, dan mendiskripsikan gerakan yang digunakan atau diminta untuk melakukan suatu operasi tertentu dan menetapkan standar yang ditentukan waktu pra-gerakan tersebut. Hal ini terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan praktisi dan pengguna yang telah dikembangkan dari suatu sistem pengukuran kerja dan analisis terhadap sebuah keluarga sistem yang memenuhi kebutuhan beragam pengguna yang berbeda sehingga hasil yang akan didapat pun berbeda. Basic Methods Time Measurement juga merupakan bentuk sistem dasar yang semua sistemnya telah dikembangkan. Metoda ini berguna untuk siklus yang berulang-ulang dan cukup detail dalam pengidentifikasian suatu elemen gerakan dasar (Sutalaksana, 1979). Basic Methods Time Measurement adalah suatu sistem penetapan awal waktu baku (Predetermined Time Standard) yang dikembangkan berdasarkan studi gambar gerakan-gerakan kerja dari suatu operasi kerja industri yang direkam dalam film.

Studi Gerakan
Studi gerakan adalah analisa yang dilakukan terhadap beberapa gerakan bagian badan pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya. Untuk memudahkan penganalisaan terhadap elemen gerakan kerja yang dipelajari, perlu dikenal dahulu gerakan-gerakan dasar. Seorang tokoh yang telah meneliti gerakan-gerakan dasar secara mendalam adalah Frank B. Gilbreth beserta istrinya yang menguraikan gerakan ke dalam 17 gerakan dasar atau elemen gerakan yang dinamai Therblig (Sutalaksana, 1979). Suatu pekerjaan mempunyai uraian yang berbeda-beda jika dibandingkan dengan pekerjaan yang lainnya. Tetapi dalam Basic Methods Time Measurement untuk gerakan dasar atau elemen gerakan hanya terdapat 11 macam gerakan, yaitu reach (R), move (M), apply pressure (AP), turn (T), grasp (G), release (Rl), position (P), disengage (D), eye time yang terdiri dari eye travel (ET) dan eye focus (EF), crank (C), dan body, leg & foot motion. Hal ini tergantung pada jenis pekerjaannya. Secara garis besar masing - masing gerakan dasar atau elemen gerakan dapat didefinisikan sebagai berikut:

Gerakan Menjangkau (Reach)
Gerakan menjangkau adalah elemen gerakan yang menggambarkan gerakan tangan berpindah tempat tanpa beban atau hambatan (resistance) baik gerakan yang menuju atau menjauhi obyek. Gerakan ini diklasifikasikan sebagai elemen gerakan yang efektif dan sulit untuk dihilangkan secara keseluruhan dari suatu siklus kerja. Meskipun demikian gerakan ini dapat diperbaiki dengan memperpendek jarak jangkauan serta memberikan lokasi yang tetap untuk obyek yang harus dicapai selama siklus kerja berlangsung. Dalam pergerakan ini, tangan dalam keadaan kosong atau tidak membawa obyek apapun. 
     
Gerakan Membawa (Move)
Gerakan membawa merupakan elemen gerakan perpindahan tangan, hanya saja disini tangan bergerak dalam kondisi membawa beban (obyek). Elemen gerak membawa termasuk elemen gerakan yang efektif sehingga sulit untuk dihindarkan. Tetapi waktu yang digunakan untuk elemen kegiatan ini dapat dihemat dengan cara mengurangi jarak perpindahan, meringankan beban yang harus dipindahkan, dan memperbaiki tipe pemindahan beban dengan prinsip gravitasi atau mempergunakan peralatan material handling. Terdapat 3 macam kasus yang membedakan gerakan-gerakan yang termasuk dalam move yaitu kasus A adalah mengangkut dengan tingkat pengendalian rendah (low) atau sedang (medium) suatu objek ke tangan lain atau berhenti karena suatu penahanan. Kasus B adalah mengangkut objek ke suatu sasaran yang letaknya tidak pasti. Kasus C adalah mengangkut dengan tingkat pengendalian tinggi (high) suatu objek ke suatu sasaran yang sudah pasti.

Gerakan Menekan (Apply Pressure)
            Gerakan menekan (apply pressure) adalah suatu elemen gerakan pada saat suatu kegiatan gerakan memerlukan tekanan yang cukup. Gerakan yang dimaksud seperti gerakan untuk mengencangkan sekrup dengan obeng. Gerakan tersebut memerlukan penekanan.

            Gerakan Memutar (Turn)
Gerakan memutar (turn) adalah memutar atau gerakan memutar tangan sepanjang sumbu tangan atau lengan bawah. Dalam penentuannya turn dibagi menjadi 3 kategori yang didasarkan atas berat objek yang diputar atau beban putaran, yaitu small, medium (lebih besar 57% dari small), dan large (lebih besar 200% dari small). Gerakan turn juga dibagi berdasarkan kondisi tangan waktu memutar, yaitu  reach-turn (jika tangan dalam keadaan kosong) dan move-turn (jika tangan terdapat objek).

Gerakan Memegang (Grasp)
Gerakan memegang (grasp) adalah elemen gerakan dasar untuk menguasai sebuah atau beberapa objek baik dengan jari atau dengan tangan untuk memungkinkan melakukan gerakan dasar berikutnya. Hal-hal yang mempengaruhi lamanya gerakan ini adalah mudah sulitnya dipegang, bercampur tidaknya dengan objek lain, bentuk objek dan lain-lain.

Gerakan Melepas  (Release)
Gerakan melepas (release) adalah gerakan melepaskan penguasaan objek oleh jari atau tangan. Terdapat dua kategori untuk pembagian gerakan release. Kategori tersebut merupakan gerakan yang mungkin terjadi pada gerakan release. Pembagian gerakan release sebagai berikut:
a.       Rl 1 : Membuka jari untuk melepaskan.
b.      Rl 2 : Menghindar (lawan dari G5).

Gerakan Mengarahkan (Position)
           Gerakan mengarahkan (position) adalah gerakan dasar dari jari atau tangan yang dipergunakan untuk meluruskan, mengorientasikan atau mengarahkan sebuah obyek dengan objek lainnya, dengan tujuan memperoleh hubungan yang spesifik. Pengertian simetri ialah objek yang diarahkan bisa dalam keadaan bebas dimasukkan atau diarahkan. Dan yang dimaksud dengan semi-simetri ialah objek yang diarahkan atau dimasukkan terbatas posisinya pada saat dimasukkan. Sedangkan yang dimaksud dengan non-simetri ialah objek yang diarahkan atau dimasukkan hanya bisa dimasukkan dengan satu posisi saja. 


Gerakan Melepas Rakit (Disengage)
Gerakan melepas rakit (disengage) adalah gerakan dasar untuk memisahkan suatu obyek dari obyek lain. Pembagian pada gerakan disengage ini dibagi dalam 3 kategori, yaitu:
a.  D1 : Loose, sangat sedikit usahanya, dan bercampur dengan gerakan selanjutnya. Dan jarak pemisahannya sampai dengan 1 inch.
b.      D2 : Close, usahanya normal, dan jarak pemisahannya antara 1 inch sampai dengan 5 inch.
c.       D3 : Tight, Usaha yang besar, dan jarak pemisahannya lebih besar dari 5 inch dan lebih kecil dari 12 inch.

Gerakan Mata (Eye Time)
Gerakan mata adalah grakan yang dilakukan dalam waktu operator melakukan perakitan, pergerakan mata diketahui pada saat operator melakukan pergerakan tangan untuk mengambil dan mencari obyek yang akan dirakit. Gerakan mata ini terbagi menjadi dua gerakan, yaitu:
a.       Eye Travel (ET)
dapat dilakukan sehubungan dengan penentuan eye travel ini, yaitu dengan membaca tabel ataupun menggunakan rumus. Berikut ini adalah tabel yang dibutuhkan dalam pengukuran:

Tabel 1. Nilai TMU Berdasarkan Derajat Perpindahan Mata
Sudut
Perpindahan (Derajat)
TMU
15
4.3
30
8.6
45
12.8
60
17.1
>=75
20


b.       Eye Focus (EF)
Eye focus adalah konsentrasi mata atau penglihatan mata terhadap suatu obyek pada kurun waktu tertentu dengan maksud memperjelas penglihatan. Nilai eye focus adalah sebesar 7,3 TMU.


Crank
Crank adalah gerakan memutar dari jari tangan , tangan, pergelangan tangan dan lengan. Berbeda dengan turn, gerakan crank memiliki diameter dari putaran, sebagai contoh memutar stir mobil.


            Body, Leg and Foot Motion
        Gerakan ini terdiri dari gerakan tubuh dan gerakan kaki. Pembagiannya adalah sebagai berikut: 
a.       Horizontal Motion
Definisi horizontal motion adalah pergerakan tubuh secara horizontal. horizontal motion dikategorikan dalam tiga jenis pergerakan, yaitu:
1). Berjalan (Walk)
2).  Pindah ke samping (Side Step)
            3)      Putar badan (Turn Body)
 b.      Leg and Foot Motion
Gerakan leg and foot motion ini dapat dikategorikan menjadi tiga bagian, yaitu:
1).  Foot motion (FM)
2). Foot motion with heavy pressure (FMP)
3).  Leg motion (LM)
c.       Vertical motion
Vertical motion adalah pergerakan ke atas atau ke bawah yang dilakukan oleh tubuh. Pergerakan vertical motion ini dibagi dalam sepuluh kategori, yaitu :
1).  Duduk (Sit), definisi sit ialah gerakan badan untuk duduk, dari keadaan berdiri.
2).  Berdiri (Stand), definisi berdiri adalah gerakan badan untuk berdiri, dari keadaan duduk.
3).  Bend (B), definisi  bend adalah membungkuk di tempat dari posisi berdiri, sehingga tangan dapat menjangkau suatu obyek, posisi lutut tetap lurus.
4).  Stoop (S), definisi stoop ialah membungkuk di tempat dari posisi berdiri, sehingga tangan sampai ke lantai
5).  Kneel on one knee (KOK), definisi kneel on one knee ialah gerakan merendahkan badan dari keadaan berdiri dengan memindahkan satu kaki ke depan atau ke belakang dan menurunkan satu lutut ke lantai.
6).  Arise from bend  (AB), definisi arise from bend adalah berdiri tegak kembali dari posisi bungkuk (bend).
7).  Arise from stoop (AS), definisi Arise from stoop adalah berdiri tegak kembali dari posisi bungkuk (stoop).
8).  Arise from kneel on one knee (KOK), definisi Arise from kneel on one knee adalah berdiri tegak dari posisi “kneel on one knee (KOK).
9).  Kneel on both knees (KBK), definisi kneel on both knees adalah merendahkan tubuh dari posisi berdiri dengan memindahkan satu kaki ke depan atau ke belakang, dan merendahkan atau menurunkan satu lutut ke lantai, serta menempatkan lutut kedua berdekatan dengan lutut pertama.
10). Arise from kneel on both knees (AKBK), definisi arise from kneel on both knees adalah berdiri tegak kembali setelah melakukan”arise from kneel on both knees” (KBK).
   
  
Referensi
Sutalaksana, Iftikar Z. 1979. Teknik Tata Cara Kerja. Bandung: Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung.
Wignjosoebroto, Sritomo. 1995. Teknik Tata Cara dan Pengukuran Kerja. Surabaya: Guna Widya.
Yudiantyo, Wawan. 1994. Penunjuk Praktis Penggunaan MTM 1-2-3. Universitas Kristen Maranatha.