Search This Blog

Total Pageviews

Tuesday, June 25, 2013

GREEN ARSITEKTUR



Green Arsitektur

Green Arsitektur (juga dikenal sebagai konstruksi hijau atau bangunan yang berkelanjutan) mengacu pada struktur dan penggunaan proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sumber daya yang efisien pada seluruh siklus hidup bangunan: mulai dari penentuan tapak sampai desain, konstruksi, operasi, pemeliharaan, hingga renovasi pembongkaran. Usaha ini memperluas dan melengkapi fungsi desain bangunan konvensional yang memperhitungkan masalah ekonomi, daya tahan utilitas, dan kenyamanan. Green arsitektur merupakan konsep arsitektur yang berkelanjutan. Keberlanjutan tersebut dapat didefinisikan sebagai memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kepentingan untuk memenuhi kebutuhan generasi mendatang.
Teknologi baru terus dikembangkan untuk melengkapi usaha ini dalam menciptakan Green BuildingGreen Building atau bangunan hijau adalah bangunan yang dirancang untuk mengurangi dampak negatif keseluruhan lingkungan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan alam melalui:
  1. Efisien dalam penggunaan energi, air, dan sumber daya lainnya.
  2. Melindungi kesehatan dan meningkatkan produktivitas orang yang menempatinya.
  3. Reduksi limbah, polusi dan degradasi lingkungan.
Berikut ini akan diuraikan lebih lanjut mengenai green roof. Green roof merupakan salah satu konsep green arsitektur yang sedang dikembangkan di berbagai negara saat ini.

Atap hijau (green roof) adalah atap sebuah bangunan yang sebagian atau seluruhnya ditutupi dengan vegetasi dan media tumbuh, ditanam di atas membran anti air. Ini juga termasuk lapisan tambahan seperti penghalang akar dan drainase sebagai sistem irigasi. (Penggunaan "hijau" mengacu pada tren yang berkembang secara ramah lingkungan dan tidak mengacu pada atap yang hanya berwarna hijau, seperti genteng berwarna hijau atau herpes zoster.). Green roof juga dikenal sebagai "atap yang hidup", green roof dibuat untuk beberapa tujuan, antara lain:
  • Menyerap air hujan
  • Menyediakan zona isolasi bagi penghijauan
  • Menciptakan habitat bagi satwa liar
  • Membantu untuk menurunkan suhu udara perkotaan
  • Mengurangi efek pemanasan global 
Ada dua jenis green roof, yaitu:
  • Atap intensif (intensive roof): lebih tebal dan dapat mendukung berbagai tanaman yang lebih luas tetapi berat dan memerlukan perawatan lebih.
  • Atap yang luas: tertutup lapisan vegetasi, lebih terang dan lebih ringan daripada atap intensif.
Istilah green roof juga dapat digunakan untuk menunjukkan atap yang menggunakan beberapa bentuk "teknologi hijau", seperti atap dingin, atap dengan kolektor panas matahari atau modul fotovoltaik. Green roof juga disebut sebagai eco-roof, oikosteges, atap tumbuhan, dan atap hidup. 

a.      Manfaat Green Roof bagi Lingkungan
Green roof  digunakan untuk:
·         Mengurangi pemanasan (dengan menambahkan massa dan nilai resistansi termal). Sebuah studi (tahun 2005) oleh Brad Bass dari University of Toronto menunjukkan bahwa green roof juga dapat mengurangi hilangnya panas dan konsumsi energi dalam kondisi musim dingin.
·         Mengurangi pendinginan pada bangunan hingga 50-90 %.
·         Penciptaan habitat alam.
·         Penyaring polutan dan karbon dioksida dari udara yang membantu mengurangi dampak penyakit pernapasan, seperti asma.
·         Penyaring polutan dan logam berat dari air hujan.
·         Mengurangi pencemaran suara; tanah membantu untuk memblokir frekuensi yang lebih rendah dan tanaman dapat memblokir frekuensi yang lebih tinggi.
·         Sebagai ruang penghijauan.

http://3.bp.blogspot.com/_ryf4vsoP_CE/TAM_kkaL-mI/AAAAAAAAABI/bG1H4siRBn8/s320/a.JPG
Gambar 1. Penggunaan Green Roof di Rumah Penduduk, Polandia


b.      Jenis-jenis Green Roof
      Green roof dapat dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu intensive green roof, semi-intensive, dan extensive green roof. Penggolongan tersebut dilakukan berdasarkan pada kedalaman penanaman dan jumlah perawatan yang dibutuhkan. Green roof yang membutuhkan kedalaman tanah yang wajar untuk menanam tanaman besar atau rumput konvensional, dianggap "intensif" karena bersifat padat karya, membutuhkan irigasi, dan perawatan lainnya. Intensive green roof dapat mencakup berbagai tumbuhan ringan, semak-semak, dan berbagai pohon kecil. Sebaliknya, extensive green roof dirancang untuk dapat mandiri dan hanya memerlukan pemeliharaan yang minimum, mungkin hanya dilakukan satu kali penyiangan dalam setahun, atau pemberian pupuk yang tidak terlalu sering untuk meningkatkan pertumbuhan. Extensive green roof biasanya hanya diakses untuk pemeliharaan. Atap jenis ini dapat didirikan pada lapisan sangat tipis dari "tanah" (paling hanya menggunakan kompos khusus yang diformulasikan.), bahkan lapisan tipis rockwool dapat langsung diletakkan ke atas lapisan kedap air dan dapat mendukung penanaman beberapa spesies tanaman tertentu, misalnya lumut.

c.       Sejarah Green Roof
Green roof memiliki sejarah panjang yang berawal dari berabad-abad yang lalu. Modern green roof, yang terbuat dari sistem lapisan dan diproduksi untuk ditempatkan di atas atap agar mendukung media tumbuh dan vegetasi, adalah fenomena yang relatif baru. Namun, green roof atau atap rumput di bagian utara Skandinavia telah ada selama berabad-abad. Green roof mulai mengalami perkembangan pesat untuk diproduksi secara massal ketika atap tersebut dikembangkan di Jerman pada tahun 1960, dan telah menyebar ke berbagai negara. Hari ini, diperkirakan bahwa sekitar 10% dari seluruh atap rumah penduduk di Jerman telah menggunakan green roof. Green roof juga menjadi semakin populer di Amerika Serikat, meskipun penduduk di sana tidak begitu antusias seperti penduduk di Eropa.
Sejumlah negara Eropa memiliki asosiasi yang sangat aktif dalam mempromosikan green roof, seperti Jerman, Swiss, Belanda, Italia, Austria, Hungaria, Swedia, Inggris dan Yunani. Terdapat banyak pengembang yang sudah membayar untuk menginstal green roof sejak tahun 1983 di kota Linz, Austria. Sementara itu di negara Swiss, penggunaan green roof sebagai atap rumah penduduk telah menjadi hukum federal sejak akhir tahun 1990-an. Penggunaan green roof sebagai atap rumah dan gedung perkantoran juga mendapat dukungan yang cukup baik dari beberapa kota di Inggris, seperti kota London dan Sheffield.

d.      Biaya Pemasangan Green Roof
Pemasangan green roof dengan benar dapat membutuhkan biaya sekitar 5-10 dolar per kaki persegi. Green roof yang dipasang secara profesional dan terintegrasi di Eropa memerlukan biaya antara 100-200 euro per meter persegi. Biaya yang dibutuhkan tergantung pada jenis green roof, struktur bangunan, dan tanaman apa yang dapat tumbuh pada bahan yang ada di atas atap. Beberapa biaya juga dapat dikaitkan dengan pemeliharaan. Extensive green roof membutuhkan pemeliharaan yang rendah tetapi pada umumnya tidak benar-benar bebas dari pemeliharaan. Pemeliharaan green roof sesungguhnya cukup sering dibutuhkan, seperti pemupukan untuk meningkatkan kesuburan atap, menutupi tanaman berbunga, dan mengairi atap. Hal inilah yang menyebabkan biaya perawatan green roof menjadi cukup mahal.

e.       Kelemahan Green Roof
Kelemahan utama dari green roof adalah biaya awal yang cukup mahal. Beberapa jenis green roof memang menuntut standar struktural bangunan yang lebih kompleks, terutama di wilayah gempa dunia. Beberapa bangunan yang ada tidak dapat dipasang dengan beberapa jenis green roof  karena beban berat substrat dan vegetasi yang melebihi standar pembebanan biasa. Besarnya biaya yang dibutuhkan tergantung pada jenis green roof yang digunakan, biaya pemeliharaan bisa lebih tinggi, tetapi terdapat beberapa jenis green roof  yang hanya membutuhkan biaya pemeliharaan yang lebih hemat. Penggunaan green roof yang tidak memakai bahan-bahan yang terbaik juga dapat menyebabkan kebocoran pada atap, baik karena banyaknya air yang tertahan di atas atap maupun karena akar tanaman menembus sistem anti air atap. Sistem anti air yang dibangun dengan komposisi struktur yang baik akan meningkatkan biaya awal intalasi green roof, namun terdapat fakta penelitian bahwa sistem anti air green roof yang terpasang dengan baik akan melindungi membran anti air dari unsur-unsur perusak, terutama sinar UV. Hal ini membuat daya tahan membran anti air dapat meningkat sampai dua kali lipat atau bahkan tiga kali lipat. Oleh sebab itu, tentunya lebih baik jika sistem anti air yang diterapkan pada green roof adalah sistem dengan komposisi bangunan yang kualitasnya terbaik, meskipun biaya yang dibutuhkan lebih mahal daripada instalasi standar. Tingginya biaya instalasi tersebut tidaklah terlalu merugikan jika dibandingkan biaya perbaikan terhadap kebocoran sistem green roof yang mungkin terjadi bila menggunakan komponen yang tidak memenuhi standar instalasi.

f.       Komponen Pokok Teknologi Green Roof   
Berikut ini adalah komponen-komponen pokok yang diperlukan untuk menerapkan teknologi green roof.  

http://3.bp.blogspot.com/_ryf4vsoP_CE/TANBXCkN6FI/AAAAAAAAABo/CQXB9ygVtuI/s320/e.gif
Gambar 2. Komponen-komponen Pokok Teknologi Green Roof


g.      Penerapan Green Roof di Indonesia
Green roof memiliki banyak manfaat untuk mengurangi dampak negatif pemanasan global. Sesungguhnya, green roof merupakan alternatif  yang baik bagi orang yang akan membangun suatu rumah atau gedung untuk ikut berkontribusi meredam efek pemanasan global. Sayangnya, teknologi ini masih belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia, padahal Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk 5 besar negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Bayangkan saja jika seluruh rumah dan gedung di Indonesia menerapkan teknologi green roof sebagai atap, betapa besarnya kontribusi bangsa kita untuk menyelamatkan dunia dari efek negatif pemanasan global. Terdapat dua kendala utama penerapan teknologi green roof di Indonesia, yaitu:
  • Pertama, terbatasnya jumlah tenaga ahli di Indonesia yang mampu melakukan instalasi green roof. Kendala ini juga didukung dengan masih terbatasnya pengetahuan sebagian besar masyarakat Indonesia tentang teknologi green roof.
  • Kedua, penduduk Indonesia sebagian besar merupakan masyarakat menengah ke bawah, sehingga kondisi keuangan sebagian besar masyarakat Indonesia tidak dapat menyanggupi instalasi green roof apalagi ditambah dengan biaya pemeliharaan green roof yang terus menerus. Kondisi keuangan tersebut diperparah dengan keadaan Indonesia yang merupakan negara rawan gempa karena posisi Indonesia berada di jalur pegunungan sirkum pasisfik, di mana masih banyak terdapat gunung berapi yang masih aktif. Keadaan alam Indonesia tersebut menyebabkan biaya instalasi green roof semakin mahal, sebab teknologi pondasi bangunan dan atap harus lebih banyak pertimbangan dan menggunakan teknik-teknik khusus.

Selain green roof, masih terdapat beberapa konsep green arsitektur lainnya yang sedang dikembangkan dan diteliti lebih mendalam oleh para ahli arsitektur dunia. Berikut ini adalah uraian singkat mengenai konsep-konsep tersebut.

2.   Vertical Theme Park of the Future
Vertical Theme Park of the Future merupakan konsep taman gedung pencakar langit masa depan, yang berbasis di New York oleh arsitek Ju-Hyun Kim. Konsep ini mengadopsi konsep dari Disneyland untuk menciptakan dunia yang berbeda namun berbasis suasana kota sebagaimana mestinya. Dimana dari konsep ini diharapkan menjadi sebuah taman tanpa mobil, bangunan berkelanjutan yang memanfaatkan energi surya dan hijau, mendaur ulang limbah, dan menampung air hujan.

http://4.bp.blogspot.com/-hgAGgpE4Tf8/UHD4Q5kdLyI/AAAAAAAACOk/5Pux5mxtwj0/s400/Vertical+Theme+Park+of+the+Future+2.jpg
Gambar 3. Konsep Vertical Theme Park of the Future

3.   Twisting Acupuncture Tower for Taiwan
Bangunan ini berdesain spiral yang diselimuti membran alga dan sanggup memproduksi biofuel. Aristektur ini dikhususkan bagi Taiwan’s Khaosiung port city dimana nantinya sekaligus dimanfaatkan sebagai sarana penyerapan sinar matahari sebagai sumber energi dan daur ulang limbah.
http://2.bp.blogspot.com/-pTFD7KCCBdU/UHD7WYHpYyI/AAAAAAAACPs/H7sKja_AESg/s400/Twisting+Acupuncture+Tower+for+Taiwan+1.jpg
Gambar 4. Twisting Acupuncture Tower for Taiwan


4.   Vertical City for Venezuela Slums
Vertical City for Venezuela Slums merupakan konsep menara yang mampu mengasilkan sumber energi angin dimana terdapat turbin mikro yang disisipkan. Menara ini terdiri dari 3 bangunan berbentuk oval yang saling tumpang tindih yang mana masing-masing akan ditempati kelompok pengguna yang berbeda yaitu mulai dari ritel, hotel, apartemen, hingga perkantoran.
http://1.bp.blogspot.com/-lqavdjA8I4o/UHD-PEwj86I/AAAAAAAACQg/WId4vs2qKYc/s400/Vertical+City+for+Venezuela+Slums+1.jpg
Gambar 5. Konsep Vertical City for Venezuela Slums


5.   Spiral Tower: Suburban Living in Berlin
Spiral tower merupakan konsep perumahan pada gedung menara bertingkat dengan prinsip lingkungan hidup yang berkelanjutan. Pola saling silang antar ruang memungkinkan adanya ruang cukup untuk teras tanaman di setiap ruang apartemen. Bangunan ini juga sekaligus mampu menghasilkan sumber energi terbarukan dengan adanya perangakat panel surya, turbin angin, dan beberapa penampung air hujan.

http://4.bp.blogspot.com/-8LEsEaWdZR8/UHD_qYwbXWI/AAAAAAAACRI/mE4sr-Z4hus/s400/Spiral+Tower+Suburban+Living+in+Berlin++2.jpg
Gambar 6. Konsep Spiral Tower


6.   Reflections Development in Singapore
Reflections Development in Singapore merupakan konsep bangunan yang terdiri dari 6 tower yang dihubungkan oleh jembatan langit yang di dalamnya menyediakan kantong-kantong ruang terbuka, sehingga memberi pemandangan spektakuler di sekitarnya. Bangunan ini menampung 1.129 unit hunian dan telah memperoleh Singapore’s Green Mark Gold Award untuk kemampuannya dalam hal penghematan energi yang besar.

http://2.bp.blogspot.com/-5rLV2Odeu8I/UHEAeMubslI/AAAAAAAACRg/wGN_lgrbgn0/s400/Reflections+Development+in+Singapore+1.jpg
Gambar 7. Reflections Development in Singapore






REFERENSI


http://archiholic99danoes.blogspot.com/2012/10/mengintip-6-konsep-arsitektur-go-green.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Green_roof
http://greenroofs.org
http://skripsi-tesis.com/docs/green+roofs+for+healthy+cities

No comments:

Post a Comment